Kamis, 06 Agustus 2026

Fisura Ani: Penyebab, Gejala, Cara Mengatasi, dan Pencegahannya

Fisura ani merupakan salah satu penyebab nyeri saat buang air besar (BAB) yang cukup sering dialami banyak orang. Meski terdengar sederhana, kondisi ini dapat menimbulkan rasa sakit yang sangat mengganggu sehingga membuat seseorang takut untuk BAB. Akibatnya, feses menjadi semakin keras dan robekan dapat bertambah parah. 


Melalui artikel dari NgasihInfo ini, Anda akan mempelajari apa itu fisura ani, penyebabnya, gejala yang perlu dikenali, cara mengobati, hingga langkah-langkah pencegahannya agar tidak mudah kambuh.

Apa Itu Fisura Ani?

Fisura ani adalah robekan kecil pada lapisan kulit yang melapisi saluran anus. Robekan ini biasanya terjadi ketika feses yang keras atau berukuran besar melewati anus sehingga kulit mengalami luka.

Karena anus memiliki banyak ujung saraf, robekan kecil sekalipun dapat menimbulkan rasa nyeri yang cukup hebat. Bahkan setelah BAB selesai, rasa sakit masih dapat bertahan selama beberapa menit hingga beberapa jam.

Kondisi ini dapat dialami oleh siapa saja, mulai dari bayi, anak-anak, hingga orang dewasa. Namun, fisura ani lebih sering terjadi pada orang yang mengalami sembelit atau sering mengejan saat BAB.

Penyebab Fisura Ani

Penyebab paling umum adalah trauma pada kulit anus akibat tekanan yang berlebihan saat BAB. Beberapa kondisi yang dapat meningkatkan risiko terjadinya fisura ani antara lain:

  • BAB keras karena sembelit.
  • Sering mengejan terlalu kuat.
  • Kurang mengonsumsi serat.
  • Kurang minum air putih.
  • Diare berkepanjangan.
  • Melahirkan secara normal.
  • Penyakit radang usus tertentu seperti Crohn.

Dalam sebagian besar kasus, penyebabnya bukan karena infeksi ataupun kanker. Oleh karena itu, fisura ani umumnya dapat sembuh dengan perawatan yang tepat.

Gejala Fisura Ani

Keluhan utama yang paling sering dirasakan adalah nyeri tajam ketika BAB. Banyak penderita menggambarkannya seperti terkena sayatan atau tertusuk benda tajam.

Selain rasa sakit, gejala lain yang dapat muncul meliputi:

  • Nyeri yang menetap setelah BAB.
  • Darah merah segar pada tisu atau permukaan feses.
  • Perasaan terbakar di area anus.
  • Gatal atau iritasi.
  • Terlihat robekan kecil di sekitar anus.
  • Muncul benjolan kecil di dekat robekan apabila sudah berlangsung lama.

Karena takut merasakan nyeri, sebagian orang justru menahan BAB. Kebiasaan ini membuat feses semakin keras sehingga robekan menjadi lebih sulit sembuh.

Apakah Fisura Ani Berbahaya?

Sebagian besar fisura ani bukanlah kondisi yang berbahaya dan dapat sembuh dalam beberapa minggu apabila ditangani dengan benar. Namun apabila robekan berlangsung lebih dari 6–8 minggu, kondisi tersebut disebut sebagai fisura ani kronis.

Pada kondisi kronis, proses penyembuhan biasanya memerlukan terapi dari dokter, baik berupa obat-obatan maupun tindakan medis tertentu apabila diperlukan.

Cara Mengatasi Fisura Ani

Penanganan bertujuan mengurangi rasa nyeri sekaligus membantu robekan sembuh. Beberapa langkah yang umumnya dianjurkan meliputi perubahan pola hidup dan terapi medis sesuai kondisi pasien.

Langkah pertama adalah membuat feses menjadi lebih lunak agar tidak kembali melukai area anus setiap kali BAB.

Pengobatan Fisura Ani

Pada banyak kasus, fisura ani dapat membaik tanpa tindakan operasi. Pengobatan biasanya berfokus pada mengurangi nyeri, mempercepat penyembuhan luka, dan mencegah robekan terjadi kembali.

Dokter dapat menyarankan beberapa pilihan terapi sesuai kondisi pasien, antara lain:

  • Memperbanyak konsumsi makanan tinggi serat.
  • Minum air putih yang cukup setiap hari.
  • Menghindari mengejan terlalu kuat saat BAB.
  • Menggunakan pelembut tinja bila diperlukan sesuai anjuran tenaga kesehatan.
  • Berendam dengan air hangat (sitz bath) selama 10–20 menit beberapa kali sehari, terutama setelah BAB.
  • Pemberian salep topikal tertentu sesuai resep dokter untuk membantu mengurangi nyeri atau membantu proses penyembuhan.

Pada fisura ani kronis yang tidak membaik dengan terapi konservatif, dokter mungkin akan mempertimbangkan tindakan medis tertentu. Jenis terapi akan disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien setelah dilakukan pemeriksaan.

Cara Mencegah Fisura Ani

Pencegahan merupakan langkah terbaik agar fisura ani tidak terjadi ataupun kambuh kembali. Sebagian besar langkah pencegahan berfokus pada menjaga agar feses tetap lunak dan proses BAB berlangsung tanpa tekanan berlebihan.

  • Konsumsi makanan kaya serat seperti sayuran, buah-buahan, kacang-kacangan, dan biji-bijian.
  • Minum air putih yang cukup setiap hari.
  • Jangan menahan keinginan BAB.
  • Hindari duduk terlalu lama di toilet.
  • Jangan mengejan terlalu kuat saat BAB.
  • Lakukan aktivitas fisik secara rutin untuk membantu menjaga kesehatan saluran pencernaan.
  • Segera atasi sembelit apabila mulai terjadi.

Kebiasaan sederhana tersebut dapat membantu menjaga kesehatan anus sekaligus mengurangi risiko robekan pada kulit anus.

Makanan yang Dianjurkan

Asupan makanan berperan penting dalam proses penyembuhan maupun pencegahan fisura ani. Berikut beberapa contoh makanan yang baik dikonsumsi:

  • Pepaya.
  • Pisang.
  • Apel.
  • Oatmeal.
  • Brokoli.
  • Bayam.
  • Wortel.
  • Kacang merah.
  • Roti gandum utuh.

Sebaliknya, apabila Anda mudah mengalami sembelit, batasi makanan yang rendah serat serta pastikan kebutuhan cairan harian tetap terpenuhi.

Kapan Harus Periksa ke Dokter?

Meskipun sebagian besar fisura ani dapat sembuh sendiri, terdapat beberapa kondisi yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut oleh dokter.

Segera periksakan diri apabila mengalami:

  • Nyeri yang sangat hebat atau tidak membaik.
  • Perdarahan berulang saat BAB.
  • Robekan tidak sembuh setelah beberapa minggu.
  • Keluar nanah dari area anus.
  • Demam.
  • Benjolan yang semakin membesar.
  • Kesulitan BAB yang semakin berat.

Pemeriksaan dokter bertujuan memastikan penyebab keluhan serta menentukan terapi yang paling sesuai. Jangan melakukan pengobatan sendiri dalam waktu lama apabila keluhan terus berulang.

Kesimpulan

Fisura ani adalah robekan kecil pada kulit anus yang paling sering disebabkan oleh BAB keras atau mengejan terlalu kuat. Kondisi ini memang dapat menimbulkan rasa nyeri yang cukup hebat, tetapi sebagian besar kasus dapat sembuh dengan perubahan pola hidup, menjaga agar feses tetap lunak, serta mengikuti pengobatan yang dianjurkan oleh dokter.

Menjaga pola makan tinggi serat, cukup minum air putih, tidak menahan BAB, dan menghindari mengejan berlebihan merupakan langkah sederhana yang sangat efektif untuk mencegah fisura ani.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Apakah fisura ani bisa sembuh sendiri?

Ya. Sebagian besar fisura ani akut dapat sembuh dalam beberapa minggu dengan menjaga pola makan tinggi serat, minum air yang cukup, menghindari mengejan saat BAB, serta mengikuti anjuran pengobatan dari dokter bila diperlukan.

Apakah fisura ani sama dengan wasir?

Tidak. Fisura ani adalah robekan kecil pada kulit anus, sedangkan wasir (hemoroid) merupakan pembengkakan pembuluh darah di sekitar anus atau rektum. Keduanya sama-sama dapat menyebabkan nyeri dan perdarahan, tetapi penyebab serta penanganannya berbeda.

Apakah fisura ani selalu berdarah?

Tidak. Sebagian penderita hanya merasakan nyeri tanpa perdarahan. Namun, sebagian lainnya dapat mengalami perdarahan ringan berupa darah merah segar pada tisu atau permukaan feses.

Berapa lama fisura ani bisa sembuh?

Fisura ani akut umumnya membaik dalam beberapa minggu apabila ditangani dengan benar. Jika keluhan berlangsung lebih dari 6–8 minggu, kondisi tersebut dapat dikategorikan sebagai fisura ani kronis dan memerlukan evaluasi lebih lanjut oleh dokter.

Kapan harus ke dokter?

Segera periksakan diri apabila nyeri tidak membaik, perdarahan sering terjadi, keluar nanah, muncul demam, terdapat benjolan yang membesar, atau keluhan berlangsung lebih dari beberapa minggu.


Artikel Terkait


Tetap Ikuti NgasihInfo!

Semoga artikel ini membantu Anda memahami apa itu fisura ani, penyebabnya, gejalanya, cara mengatasi, hingga langkah pencegahannya.

Di NgasihInfo, kami rutin membagikan edukasi kesehatan dengan bahasa yang mudah dipahami berdasarkan referensi medis terpercaya.

Jangan lupa ikuti NgasihInfo di media sosial dan kunjungi ngasihinfo.id untuk mendapatkan informasi kesehatan, teknologi, fakta unik, dan edukasi menarik lainnya.

Rabu, 05 Agustus 2026

Apa Itu IUGR? Kenali Penyebab, Risiko, dan Cara Mendeteksinya Sejak Dini

Pernah mendengar istilah IUGR (Intrauterine Growth Restriction)? Kondisi ini terjadi ketika pertumbuhan janin di dalam kandungan lebih lambat dibandingkan usia kehamilannya. IUGR bukan berarti semua bayi akan mengalami masalah serius, tetapi kondisi ini perlu dipantau dengan baik agar ibu dan bayi mendapatkan penanganan yang tepat.

Apa Itu IUGR?

IUGR adalah singkatan dari Intrauterine Growth Restriction, yaitu kondisi ketika janin mengalami hambatan pertumbuhan di dalam rahim sehingga ukuran dan berat badannya lebih kecil dari yang diharapkan sesuai usia kehamilan.

Penting untuk diketahui bahwa bayi dengan ukuran kecil belum tentu mengalami IUGR. Diagnosis hanya dapat ditegakkan oleh dokter melalui pemeriksaan kehamilan, terutama menggunakan USG dan pemantauan pertumbuhan janin secara berkala.

Penyebab IUGR

Penyebab IUGR sangat beragam, namun yang paling sering adalah gangguan fungsi plasenta (placental insufficiency). Pada kondisi ini, plasenta tidak mampu menyalurkan oksigen dan nutrisi secara optimal kepada janin sehingga pertumbuhannya menjadi terhambat.

Selain itu, beberapa faktor lain juga dapat meningkatkan risiko IUGR, antara lain:

  • Hipertensi atau tekanan darah tinggi pada ibu.
  • Preeklamsia.
  • Anemia berat.
  • Kebiasaan merokok selama kehamilan.
  • Infeksi tertentu selama kehamilan.
  • Kehamilan kembar.
  • Penyakit kronis pada ibu, seperti penyakit ginjal atau diabetes yang tidak terkontrol.

Apa Bahaya IUGR?

Jika tidak dipantau atau ditangani dengan baik, IUGR dapat meningkatkan risiko beberapa komplikasi, di antaranya:

  • Berat badan lahir rendah (BBLR).
  • Kelahiran prematur.
  • Kekurangan oksigen pada janin.
  • Hipoglikemia (gula darah rendah) setelah lahir.
  • Gangguan pernapasan pada bayi baru lahir.
  • Janin mengalami stres sebelum persalinan.

Namun perlu diingat, tidak semua bayi dengan IUGR akan mengalami komplikasi tersebut. Banyak bayi dapat lahir dengan kondisi baik apabila mendapatkan pemantauan dan penanganan yang tepat sejak dini.

Bagaimana Cara Mendeteksi IUGR?

Cara terbaik mendeteksi IUGR adalah melalui pemeriksaan kehamilan rutin. Dokter biasanya akan memantau pertumbuhan janin menggunakan USG, mengukur aliran darah plasenta, serta memperkirakan berat badan janin sesuai usia kehamilan.

Semakin cepat IUGR diketahui, semakin besar peluang dokter menentukan waktu persalinan dan penanganan terbaik untuk menjaga kesehatan ibu maupun bayi.

Bisakah IUGR Dicegah?

Tidak semua kasus IUGR dapat dicegah. Namun, risiko dapat dikurangi dengan:

  • Rutin kontrol kehamilan sesuai jadwal.
  • Mengonsumsi makanan bergizi seimbang.
  • Tidak merokok dan menghindari asap rokok.
  • Mengelola penyakit kronis sebelum dan selama kehamilan.
  • Mengikuti semua anjuran dokter kandungan.

Kesimpulan

IUGR merupakan kondisi ketika pertumbuhan janin di dalam kandungan lebih lambat dari yang seharusnya. Penyebab tersering adalah gangguan fungsi plasenta, tetapi faktor kesehatan ibu juga berperan. Dengan pemeriksaan kehamilan rutin dan deteksi dini, sebagian besar kasus dapat dipantau sehingga dokter dapat memberikan penanganan terbaik bagi ibu dan bayi.


Tentang NgasihInfo

Artikel edukasi kesehatan ini dipublikasikan oleh NgasihInfo, media yang menyajikan informasi kesehatan dan ilmu pengetahuan dengan bahasa sederhana, mudah dipahami, dan berdasarkan referensi medis terpercaya. Kunjungi NgasihInfo.id untuk mendapatkan berbagai artikel edukatif lainnya. Konten dari NgasihInfoID dan Ngasih Info hadir untuk membantu masyarakat memahami berbagai topik kesehatan secara lebih mudah, akurat, dan menarik.

Tidur Pakai Bra Bikin Payudara Kendur? Mitos atau Fakta?

Masih banyak yang percaya bahwa tidur memakai bra dapat membuat payudara tetap kencang atau justru menyebabkan payudara menjadi kendur. Benarkah demikian?
Jawabannya adalah mitos.

Berdasarkan bukti ilmiah, tidur memakai bra tidak terbukti membuat payudara lebih kencang, mencegah payudara kendur, maupun mengubah bentuk payudara dalam jangka panjang. Memakai atau tidak memakai bra saat tidur lebih bergantung pada kenyamanan masing-masing.

Apa yang Menentukan Bentuk Payudara?

Bentuk payudara lebih dipengaruhi oleh beberapa faktor berikut:

  • Faktor genetik.
  • Bertambahnya usia.
  • Kehamilan dan menyusui.
  • Perubahan berat badan.
  • Elastisitas kulit dan jaringan penyangga payudara.

Jadi, tidur memakai bra bukanlah faktor yang menentukan apakah payudara akan tetap kencang atau menjadi kendur.

Apakah Aman Tidur Memakai Bra?

Ya, umumnya aman apabila bra yang digunakan:

  • Bersih.
  • Ukurannya pas.
  • Tidak terlalu ketat.
  • Nyaman digunakan saat tidur.

Namun, jika bra terasa sesak, meninggalkan bekas tekanan, atau mengganggu kualitas tidur, sebaiknya dilepas saat tidur.

Tips Menjaga Bentuk Payudara

Walaupun tidak ada cara yang dapat menghentikan perubahan alami bentuk payudara, beberapa kebiasaan berikut dapat membantu menjaga kesehatan jaringan penyangga payudara:

  • Menjaga berat badan tetap stabil.
  • Berolahraga secara rutin.
  • Menggunakan bra dengan ukuran yang sesuai saat beraktivitas atau berolahraga.
  • Menerapkan pola hidup sehat.

Kesimpulan

Tidur memakai bra tidak membuat payudara lebih kencang maupun lebih kendur. Bentuk payudara lebih dipengaruhi oleh usia, genetik, kehamilan, menyusui, perubahan berat badan, dan elastisitas jaringan tubuh.

Jadi, keputusan memakai bra saat tidur sepenuhnya kembali pada kenyamanan masing-masing.

🎥 Tonton Video Edukasinya

▶️ Klik di sini untuk menonton video edukasi di Instagram


NGASIHINFO menghadirkan informasi kesehatan yang mudah dipahami, berbasis fakta, dan dikemas secara sederhana. Ikuti juga NGASIHINFOID, NGASIHINFO.id, dan Ngasih Info untuk mendapatkan edukasi kesehatan, mitos vs fakta, serta tips kesehatan terbaru setiap hari.




Hemoroid (Wasir): Penyebab, Gejala, Cara Mencegah, dan Pengobatannya

Hemoroid atau yang lebih dikenal sebagai wasir adalah kondisi ketika pembuluh darah di area anus atau rektum bagian bawah membengkak. Meski sering dianggap sepele, hemoroid bisa menimbulkan rasa tidak nyaman, nyeri, gatal, hingga BAB berdarah.

Kondisi ini dapat dialami siapa saja, terutama orang yang sering mengalami sembelit, duduk terlalu lama, atau sering mengejan saat buang air besar.

Apa Penyebab Hemoroid?

Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko hemoroid antara lain:

  • Sering mengejan saat BAB.
  • Sembelit atau diare berkepanjangan.
  • Duduk terlalu lama, terutama di toilet.
  • Kurang mengonsumsi serat.
  • Obesitas.
  • Kehamilan.
  • Bertambahnya usia yang membuat jaringan penyangga pembuluh darah melemah.

Gejala Hemoroid

Gejala hemoroid bisa berbeda pada setiap orang, namun yang paling umum adalah:

  • BAB berdarah berwarna merah segar.
  • Benjolan di sekitar anus.
  • Nyeri saat duduk atau BAB.
  • Gatal dan iritasi di area anus.
  • Keluar lendir setelah BAB.

Jika perdarahan terus berulang atau disertai nyeri hebat, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter untuk memastikan penyebabnya.

Cara Mencegah Hemoroid

Hemoroid dapat dicegah dengan menerapkan pola hidup sehat, seperti:

  • Perbanyak konsumsi makanan tinggi serat (buah, sayur, dan biji-bijian).
  • Minum air putih yang cukup setiap hari.
  • Jangan menunda keinginan BAB.
  • Hindari mengejan terlalu kuat.
  • Rutin berolahraga.
  • Hindari duduk terlalu lama, terutama di toilet.

Apakah Hemoroid Bisa Sembuh?

Ya. Hemoroid ringan umumnya dapat membaik dengan perubahan gaya hidup dan pengobatan sesuai anjuran dokter. Namun pada kasus yang lebih berat, dokter dapat menyarankan tindakan medis seperti ligasi karet, skleroterapi, atau operasi.

Kapan Harus ke Dokter?

Segera periksa ke dokter apabila mengalami:

  • BAB berdarah berulang.
  • Benjolan semakin besar dan nyeri.
  • Perdarahan yang banyak.
  • Nyeri hebat yang tidak membaik.

Jangan menganggap semua BAB berdarah adalah hemoroid karena keluhan tersebut juga bisa disebabkan oleh penyakit lain yang memerlukan penanganan berbeda.

Kesimpulan

Hemoroid merupakan kondisi yang umum terjadi dan sering dipicu oleh kebiasaan mengejan, sembelit, serta kurangnya asupan serat. Dengan menjaga pola makan, rutin bergerak, dan menerapkan kebiasaan BAB yang baik, risiko hemoroid dapat dikurangi.


Kata Kunci : hemoroid, wasir, penyebab hemoroid, gejala wasir, BAB berdarah, benjolan di anus, cara mengatasi hemoroid, cara mencegah wasir, kesehatan pencernaan.

Artikel edukasi kesehatan ini disusun oleh NgasihInfo, Ngasih Info, NgasihInfoID, dan NgasihInfo.id